Week of Floor Sleep
Jul 23, 2008 Rumbles
Seminggu yang lalu hampir tiap malam saya ngeloni Bapak Mertua.
Heh! Jangan salah paham dan berpikiran yang iya-iya dulu!
Ngeloni di sini artinya nemenin jaga buat beberapa hari berhubung beliau diopname di rumah sakit. Hari Kamis dua minggu yang lalu kesehatan Bapak yang sudah hampir sebulan ambruk karena penyakit lamanya kambuh ternyata tambah parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit dan eng ing eng, memang harus opname dan dioperasi secepatnya.
Bapak Mertua – atau lebih enaknya saya panggil saja dengan nickname ‘Kanjeng Romo’ supaya lebih akrab – menderita penyakit hernia. Dengan wajah meyakinkan dan pandangan mata tajam saya mengangguk-angguk sok tahu ketika diberitahu istri saya tentang penyakit yang diderita Kanjeng Romo – walaupun dalam hati pengen segera membuka Wikipedia untuk cari tahu apa itu hernia. Awalnya saya kira ada hubungannya dengan tumbuh-tumbuhan, tapi langsung digetok di ubun-ubun, itu sih herbal, ya… bukan hernia! Hihihi, jauh yah?
Selidik punya selidik, ternyata hernia adalah penyakit yang berhubungan dengan ‘tutung’. Hoyoh to ~ apa itu tutung? Itu istilah keponakan saya si Oncen yang masih berumur 2 tahun untuk man’s vital part alias saluran pipis.
Hernia atau turun berok selama ini lebih dikenal sebagai penyakit pria, karena hanya kaum pria yang mempunyai bagian khusus dalam rongga perut untuk mendukung fungsi alat kelaminnya. Berdasarkan penyebab terjadinya, hernia dapat dibedakan menjadi hernia bawaan (congenital) dan hernia dapatan (akuisita). Sedangkan menurut letaknya, hernia dibedakan menjadi hernia inguinal, umbilical, femoral, diafragma dan masih banyak lagi nama lainnya.
Bagian hernia terdiri dari cincin, kantong, dan isi hernia itu sendiri. Isi hernia yaitu usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum). Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut, maka usus dapat keluar ke tempat yang tidak seharusnya, yakni bisa ke diafragma (batas antara perut dan dada), bisa di lipatan paha, atau di pusar. Umumnya hernia tidak menyebabkan nyeri. Namun, akan terasa nyeri bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Infeksi akibat hernia menyebabkan penderita merasakan nyeri yang hebat, dan infeksi tersebut akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan seperti itu, maka harus segera ditangani oleh dokter karena dapat mengancam nyawa penderita.
Hernia dapat terjadi pada semua umur, baik tua maupun muda. Pada anak-anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Biasanya yang sering terkena hernia adalah bayi atau anak laki-laki. Pada orang dewasa, hernia terjadi karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena faktor usia.
Tekanan dalam perut yang meningkat dapat disebabkan oleh batuk yang kronik, susah buang air besar, adanya pembesaran prostat pada pria, serta orang yang sering mengangkut barang-barang berat.
Penyakit hernia akan meningkat sesuai dengan penambahan umur. Hal tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang menyebabkan tekanan di dalam perut meningkat.
Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang tahu tentang gejala awal penyakit hernia, namun seringkali tidak menyadarinya. Pada awalnya, gejala yang dirasakan oleh penderita adalah berupa keluhan benjolan di lipatan paha. Biasanya akan timbul bila berdiri, batuk, bersin, mengejan atau mengangkat barang-barang berat. Benjolan dan keluhan nyeri itu akan hilang bila penderita berbaring.
Hernia dapat berbahaya bila sudah terjadi jepitan isi hernia oleh cincin hernia. Pembuluh darah di daerah tersebut lama-kelamaan akan mati dan akan terjadi penimbunan racun. Jika dibiarkan terus, maka racun tersebut akan menyebar ke seluruh daerah perut sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi di dalam tubuh.
Sebenarnya tidak semua hernia harus dioperasi. Bila jaringan hernia masih dapat dimasukkan kembali, maka tindakannya adalah hanya menggunakan penyangga atau korset untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Pada anak-anak atau bayi, reposisi spontan dapat terjadi karena cincin hernia pada anak lebih elastis. Bila sudah tidak dapat direposisi, maka satu-satunya tindakan yang harus dilakukan adalah melalui operasi.
Keterangan di atas diambil dari sini
Setelah Kanjeng Romo mendaftar untuk opname dan dipastikan masuk ke bangsal yang berisikan empat punggawa lain yang menderita sakit, maka tugas berikutnya adalah mencari bidak yang akan dikorbankan untuk berjaga malam.
Hari pertama opname tidak ada kontestan yang mencalonkan diri untuk menjadi petugas jaga. Denmas Kurawa (semua nama di blog ini sengaja diubah) kakak ipar saya mengaku enggan karena seumur hidupnya tidak pernah tidur di rumah sakit dan tidak mau merusak rekor MURI-nya tersebut. Yang cewek-cewek juga tidak mungkin jaga malam karena paginya harus ngurusin rumah atau kerja dan bergantian jaga siang sampai sorenya. Sementara adik ipar saya Si Bagong sudah buru-buru pamit karena ada urusan dengan Dewan Perwakilan Rakyat RT untuk membicarakan kelanjutan sinetron Cinta Fitri Season 2.
Karena semua berhalangan, saya yang mendapat penghargaan mantu pinilih of the year memutuskan untuk mengajukan diri sebagai kandidat utama malam pertama. Untuk memilih saya saat itu cukup mengetik Reg (spasi) Mantu kirim ke 9877. Hasilnya tentu saja sukses besar. Malam itu saya didaulat untuk menjaga Kanjeng Romo sementara Denmas Kurawa akan menyusul dan masuk sebagai pemain pengganti. Walaupun badan capek dan pikiran sudah ngeloyor karena seharian bekerja, sang mantu pinilih ini menggelontor di bawah tempat tidur Kanjeng Romo untuk menikmati malam beralaskan ubin.
Beruntung juga saya sudah capek malam itu, karena hanya dengan beberapa kali klipuk sana klipuk sini sudah mampu melemparkan khayalan dan terbang ke dunia mimpi untuk menemui Carmen Electra. Denmas Kurawa akhirnya memang datang untuk memberikan kasur lipat, tapi dia langsung kabur dan pilih tidur di kursi panjang yang ada di depan bangsal. Weladalah, Denmas Kurawa ini mau nemenin jaga atau ngelonin Pak Satpam?
Pagi harinya Kanjeng Romo dioperasi. Karena saya harus bekerja maka istri saya yang melaporkan pandangan mata melalui sms. Setelah dioperasi baru diketahui beberapa penyakit yang diderita Kanjeng Romo. Ternyata bukan main-main, beliau kena hattrick. Kanjeng Romo tidak saja kena hernia, namun ada juga usus buntu dan masih ditambah angkat tumor pula. Wah wah, sakitnya pasti luar biasa.
Alhamdullilah, operasi berlangsung dengan sukses.
Karena bekas operasi tidak mungkin sehari jadi seperti halnya menambal celana jeans bolong dan Kanjeng Romo harus melanjutkan opnamenya selama beberapa hari lagi, tugas jagapun kembali dilelang. Semuanya langsung buru-buru. Buru-buru menolak maksudnya, hehehe. Sekali lagi plot hari pertama diulang, saya dan Denmas Kurawa yang berjaga. Itu artinya saya tidur di bawah tempat tidur Kanjeng Romo sementara Denmas Kurawa akan menyusul malamnya untuk ngeloni Pak Satpam.
Di hari ketiga formasi diubah karena Denmas Kurawa kangen dengan sinetron Cinta Fitri Season 2. Kali ini Si Bagong yang dipaksa diminta untuk menemani saya. Berbeda dengan Denmas Kurawa yang lebih menyayangi Pak Satpam, Si Bagong mau nggelontor di samping saya di bawah tempat tidur Kanjeng Romo. Malamnya kami berdua adu ngorok untuk membuktikan siapa pengganggu pasien tidur nomer satu di rumah sakit.
Cilakanya setelah tiga hari tidur eksklusif, saya masuk angin dan diare dengan sukses. Untuk dua malam berturut-turut saya tidur di rumah karena penyakit kelas atas tersebut, kebetulan itu hari sabtu dan minggu, jadi dua hari itu saya bisa istirahat total. Konon dua malam itu Denmas Kurawa berjaga sendirian di rumah sakit, tapi seperti biasa, karena masih menyayangi Pak Satpam, Denmas Kurawa baru masuk ke dalam dan tidur nggelontor di bawah Kanjeng Romo mulai jam dua pagi setelah sebelumnya ngeloni Pak Satpam.
Dua hari sembuh dari in the wind alias masuk angin, saya kembali didaulat untuk berjaga. Tapi malam pertama kembali berjaga saya cuma sendirian karena Denmas Kurawa mengutarakan alasan-alasan yang saya sendiri sudah lupa, sementara Si Bagong mengutarakan alasan-alasan yang orang serumah lupa. Hehehe. Untung untuk dua hari berikutnya Si Bagong mau nemenin saya berjaga sementara Pak Satpam nelangsa karena ditinggal Denmas Kurawa.
Di hari kedua saya tidur nggelontor dengan Bagong, dia pamit jalan-jalan dengan orang sebelah untuk cari minuman anget. Karena mata sudah tidak mau diajak kompromi dan paginya saya harus kerja, maka saya tinggal tidur saja.
Anehnya, ketika dalam mimpi saya Carmen Electra sudah bersiap menggoyang pinggul untuk menjereng pakaian (what? Is there any sexier performance?) saya mencium bau-bauan aneh seperti terasi. Awalnya saya kira itu istri saya yang menggoreng sendal jepit. Tapi saya lalu sadar, ini kan bukan di rumah! Sendal jepit di rumah sudah habis digoreng! Saya pun membuka mata dengan berat untuk menemui apa yang sekiranya menimbulkan bau-bauan ajaib itu.
Mblugenyah! Lha kok jebulnya kaki si Bagong!
Langsung saja bangunlah saya dengan tiba-tiba. Ndak bener ini, ndak bener! Dikira apaan jebulna jempol kaki. Pantes aja baunya kayak cecak kejepit pintu. Woalah, ternyata karena Bagong tidur dengan posisi terbalik hidung saya tepat mengendus jempolnya yang nggak ada seksi-seksinya. Untung saja saya nggak pingsan dengan sukses.
Alhamdullilah, paginya Kanjeng Romo sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Bagi saya sendiri, setidaknya saya bisa kembali merasakan empuknya kasur busa kredit tiga kali bayar di rumah dan ngeloni istri saya.
Welcome home, Kanjeng Romo. Semoga sehat selalu.
Until next time.
Always shaven. Home.

July 23rd, 2008 at 9:30 pm
REG(spasi)Mantu
9877
Sent
Wekekekek!
Selamat mengeloni istri kembali seperti sediakala…
*kabuuur*