The Do’s at Spare Times

What to do?

Sore hari atau weekend bisa digunakan untuk bersantai-santai sambil beristirahat setelah seharian atau seminggu penuh bekerja. Apa yang anda lakukan untuk mengisi waktu senggang itu?

Jawaban pertama untuk saya adalah main game. Football Manager 2007 masih tak terkalahkan dan menjadi yang nomor satu. Sejak dulu saya menggemari game yang tiap tahun muncul ini bahkan ketika namanya masih Championship Manager (CM memang masih ada karena perpecahan pengembang (Sports Interactive) dan produsen game (Eidos), SI kini gabung ke SEGA dan melanjutkannya dengan judul FM). Bahkan saya belum tertarik untuk update dengan menginstall seri terbaru saking masih getolnya main FM2007 yang adiktif. Toh saya tidak begitu terpengaruh dengan update pemain di seri 2008, walaupun akhir-akhir ini saya juga tergoda untuk mencicipi FIFA Manager 2007 keluaraan EA Sports (ya, lagi-lagi versi 2007 – bukan 2008, karena takut mengatasi spesifikasi kebutuhan program yang makin hari makin nggilani).

Menonton televisi adalah alternatif lain. Menonton film kartun atau anime juga jauh lebih santai ketimbang mengikuti persidangan Maia dan Dhani yang gak selesai-selesai di acara ‘Ini Seret Investigasi’ atau infotainment lain yang mengharuskan presenternya memonyong-monyongkan bibir. Menonton anime One Piece yang diputar tiap sore di Global TV misalnya, walaupun dari segi popularitas ‘terganggu’ oleh Naruto dan Bleach, tapi serial ini sungguh sangat menarik dengan gayanya yang khas. Saya lebih suka lelucon-lelucon super edan garapan Eichirou Oda sensei dengan tokoh-tokoh berbentuk tragisnya daripada gaya Naruto yang makin hari makin serius. Bagi saya, rombongan bajak laut Topi Jerami yang ancur lebur jauh lebih menarik daripada rombongan ninja sok cool dan dewa kematian amatir. Sayang kualitas dubbing di Indonesia ancur – dan dengan dubbing yang acak adul, para dubber itu sukses menghancurkan One Piece. Please deh.

Naruto vs One Piece memang pertarungan yang seru, keduanya punya fans masing-masing, seperti Linux vs Windows, AMD vs Intel, Yahoo vs Google, Dewi Persik vs Syaiful Djamil, Pamela Anderson vs Asosiasi Pabrik Susu Sapi, semua punya pendukung yang setia. Walaupun saat ini bisa dibilang masa jayanya Naruto, kesetiaan saya pada Monkey D. Luffy dan kawan-kawan tak tergoyahkan. Hehehe. Ketertarikan saya pada One Piece dimulai ketika membaca manganya. Sampai saat ini, manga One Piece masih terjaga kualitas gambar dan adegannya (atau setidaknya begitu menurut saya). Gambarnya penuh mengisi panel dan walaupun kadang terlihat ruwet namun detailnya masih konsisten, termasuk untuk background, bandingkan dengan Naruto yang sepertinya mengalami penurunan kualitas di manganya (tapi lagi-lagi ini menurut saya lho).

Tontonan lain yang menarik buat saya mungkin sinetron Suami-Suami Takut Istri. Jangan salah, saya ini anti sekali nonton sinetron lokal – apalagi stripping maut ala “Kasih”, “Cinta Indah”, “Cinta Fitri Season 2” (Ini lagi! Sok ikut-ikut serial luar pake tambahan ‘season’ segala, kenapa sih gak disebut “Cinta Fitri 2” aja? Atau kalau boleh usul, coba pake judul “Cinta Fitri Seri Dua Yang Mana Daripada Mencari-cari Bahan Cerita Supaya Bisa Dipanjang-panjangin”).

Omong-omong, btw saja, ini gak ada hubungannya sama bahasan di atas sih, tapi pernah gak anda sekali waktu melirik sinetron kejar tayang dan benar-benar memperhatikan adegannya? Ada beberapa kesamaan dalam sinetron-sinetron itu yang kalau diperhatikan lucu dan wagu. Ini misalnya: Ketika aktor dan aktris yang katanya berbakat dan mampu menjiwai peran-perannya itu sedang menunjukkan aktingnya, mereka selalu mendapat porsi zoom dari kamera hingga akan selalu diperlihatkan dari pinggang ke atas atau bahkan sering sekali zoom dari dada ke atas (jawaban ilmiahnya tentu supaya ngirit ongkos produksi agar aktor dan aktris yang sangat berbakat itu tidak perlu ketemu di lokasi shooting dan tidak perlu masuk dalam satu frame yang sama, tapi bisa disatukan dalam satu adegan. Kan bisa ngirit waktu dan uang sekaligus ngejar setoran).

Nah, mungkin karena sering tidak berada dalam satu frame yang sama, sinetron-sinetron itu sering sekali mempertemukan karakter-karakter yang sedang melakukan percakapan serius dengan posisi kedua tokoh sedang berdiri dan saling berhadapan. Tolong kata berdiri digarisbawahi. Ya… berdiri. Karena sepertinya kursi tidak laku di dunia sinetron. Mereka lebih suka dan gemar sekali bercakap-cakap sambil berdiri. Sangat jarang ada adegan para tokoh ketemuan sambil duduk – pasti selalu berdiri. Masuk ke rumah – ketemu lawan main – ngoceh – zoom kaget – keluar. Masuk ke kamar – ketemu lawan main – ngibul – zoom wajah licik – keluar. Tidak ada adegan duduk di kursi. Tidak ada “Mari silahkan duduk, ada perlu apa ya?” Atau “Duduk dulu yuk, ada yang bisa dibantu?”. Heh. Those sinetron. Really.

Kembali ke Suami-Suami Takut Istri, denger-denger sinetron ini diprotes yah? Kenapa? Karena ngajarin jelek istri-istri supaya berani dan kurang ajar sama suami? Masa sih? Apa bukan karena otak penontonnya yang gak bisa menerima hiburan santai? Terus kita disuruh nonton apa dong? Ini bukan masanya lagi main breidel, kalau memang gak suka sama satu acara, ya jangan nonton! Cari remote anda, pencet channel lain, beres deh! Hehehe, gitu aja kok repot. Biarkan saya menonton Mbak Preti… eh maksud saya… sinetron ini dengan santai! Bahkan kalau menurut saya, sitkom Suami-Suami Takut Istri ini jauh lebih seru ketimbang Bajaj Bajuri dan OB. Karena di sinetron inilah saya bisa tertawa lepas tanpa perlu dipandu oleh suara ngakak berbarengan yang ada di latar belakang padahal gak ada momen lucu. Oke deh, mungkin Suami-Suami Takut Istri tidak sesempurna itu, tapi ya lumayanlah dibanding nonton sinetron kejar tayang.

Alternatif lain saya untuk mengisi waktu senggang adalah dengan menulis cerita – walaupun untuk yang satu ini dibutuhkan mood yang benar-benar pas. Gak tau kenapa, tapi mood saya untuk menulis cerita benar-benar anjlok ke posisi terbawah beberapa bulan terakhir ini, gak mampu sedikitpun membayangkan mau menulis cerita apa. Tapi yang namanya hobby, pasti dicariin waktu.

Tapi itu saya. Apa kegiatan anda mengisi waktu luang?

Until next time.
Always shaven. Stripping.

One Response to “The Do’s at Spare Times”

  1. Ambu Says:

    Euh, One Piece? Sapotong (dalam bahasa Sunda-nya :P)
    Ambu masih lebih suka Naruto. Yang lagi suka Sapotong ini Dev. Sana, bergabung dengannya, hihi..

    Kalau SSTI, ga nonton. Apalagi di depan anak-anak. Ga baik untuk anak-anak. Suami kok takut sama istri. Suami itu harusnya takut sama anak-anak…
    *kabuuuur*

    Oya, mood untuk menulis-mu jatuh ke mana memangnya? Hayo, dicari! Kali aja ada di kolong meja, kolong ranjang, kolong lemari …
    *kabur lebih jauh lagi*

    Shaven: Hihihi, Sapotong eta tea? Kalo di Jawa Siji Wae kali yah. Dev! One Piece rules ya! One Piece emang sip, ada Nico Robin yang seksi, ada Nami yang… euh… kids, please don’t read this :D

    SSTI itu kayaknya memang bukan untuk anak-anak, tapi buat bapak-bapak. Kalo pas lagi ronda bapak-bapak di kampung ngomonginnya kalo gak SSTI ya Cinta Fitri 2 (Aarrrrghhhhh!).


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree