Poisonous Veggie
Aug 26, 2008 Rumbles
Beberapa minggu yang lalu saya sakit.
Badan nekuk-nekuk, seharian hidung meler, nelen gak enak, kepala senut-senut, perut mulas, Jogja berawan, Semarang hujan, pokoknya komplit – terpaksalah saya minta ijin pada Pak Bos untuk libur sehari. Jam sepuluh siang hari itu saya dianterin istri mengunjungi puskesmas yang ada di belakang rumah mertua. Puskesmas itu makhluk aneh, sakit apapun selalu dikasih vitamin dan kapsul-kapsul kuning yang kurang begitu jelas asal muasalnya. Mulai dari darah tinggi sampai mencret, obatnya yang itu-itu juga. Tapi yah gak apa-apa, itung-itung kontrol tensi dan periksa kondisi dengan harga yang terjangkau. Kalaupun vitaminnya nggak manjur saya bisa minta petunjuk primbon Mbah Roso yang keponakannya lahir Kamis Legi itu.
Sambil menunggu dipanggil mbak mantri setelah mendaftar di administrasi, saya dan istri duduk di kursi yang ada di ruang tunggu. Ruangan itu kecil, jadi mau tidak mau kami ‘harus’ melihat ke arah seorang bapak berpakaian dinas yang mondar mandir di depan kamar obat. Bapak itu datang untuk mengantarkan dua orang gadis kecil berseragam SD yang duduk di kursi tunggu. Istri saya iseng-iseng nanya ke salah satu anak SD yang wajahnya melas dan pucat, mungkin dia ngerasa kalo suaminya juga punya wajah yang melas dan pucat.
“Sakit apa, dek?” tanya istri saya.
“Keracunan, Bu.”
Heh!?
“Keracunan?” istri saya mulai penasaran.
“Iya, perutnya sakit, takutnya kena diare.”
“Cuma berdua ini yang sakit?”
“Nggak, Mbak. Ada 6 anak yang kena. 2 di sini, 2 di puskesmas sana dan 2 lagi dianterin ke puskesmas yang sana lagi.” Kata Bapak yang nganterin dua anak SD itu sambil nunjuk kesana kemari – padahal kita juga belum tentu tahu puskesmas yang dia maksud.
“Kok bisa keracunan, Pak?” tanya istri saya lagi, wah… mulai kumat penyakit Nancy Drew-nya. Pengen tau aja.
“Katanya gara-gara jajan.” Jawab Bapak itu.
“Oh, jajan sembarangan ya. Penjualnya yang sering keliling ya?”
“Malah bukan. Mereka beli nasi sayur di warung deket SD.” Lagi-lagi Bapak itu menjawab. “Itu yang bikin heran, kalau yang jualan yang sering keliling memang mengkhawatirkan, sering pakai bahan makanan yang tidak jelas dan kualitas saosnya diragukan.”
“Oooh, jadi malah warung gitu ya, Pak?”
“Iya, Mbak. Mungkin sayurnya sisa kemarin atau gimana nggak tahu…”
Anak-anak SD itu ikut nambahi. “Iya, tadi memang sayurnya agak aneh rasanya, nggak begitu enak. Nggak maknyus.” Halah.
“Saya juga heran sama yang jual, Mbak. Sudah dipercaya kok malah seenaknya sendiri. Yang beli makanan kan kebanyakan anak-anak yang seharusnya dijaga kualitas kebersihannya, kok maunya malah cuma cari untung saja. Kalau yang jual yang keliling pasti sudah dikeroyok orang tua murid. Kalau yang ini mungkin nanti diajak rembugan dulu.”
Istri saya terus menimpali dengan manggut-manggut sementara saya geleng-geleng antara nggak ngerti sembari mencoba mengeluarkan ingus.
Tak lama kemudian saya dipanggil masuk ruang periksa, jadi saya lupakan percakapan barusan untuk sementara. Ealah lha kok jebul di dalam mbak mantri malah sibuk sms-an. Dudulipret.
Sembari sms-an, mbak mantri lalu memeriksa saya. Jadi sodara-sodara, mohon dicatat: bukan memeriksa sambil sms-an, tapi ketika sms diselingi dengan memeriksa saya! Ya! Dudulipret. Memangnya penyakit bisa didiagnosa dari sms ya, mbak? Mentang-mentang PNS nih, periksa pasien kok seenaknya.
Tak lama kemudian saya keluar dari ruang periksa dan istri saya memintakan obat, bapak dan dua anak SD tadi tentunya sudah pergi. Tapi masalah keracunan tadi masih membuat saya berpikir.
Entah kenapa otak saya langsung membayangkan seorang ibu-ibu tua yang dengan susah payah mencari kayu bakar karena tidak kuat membeli minyak tanah atau gas yang harganya melambung dan berulang memanasi sayur yang tak kunjung laku dijual di warungnya. Dia ingin masak sayur baru namun hal itu tidak bisa dilakukan kalau sayurnya belum habis karena dia belum punya modal cukup, apalagi anak laki-lakinya yang hobi balap motor di jalan kampung selalu minta uang untuk beli bensin. Dengan sangat terpaksa dia menjual sayurnya yang tersisa banyak sejak kemarin dengan harapan rasanya masih enak dan bisa dimakan.
Saya membayangkan ibu-ibu tua itu dimaki-maki oleh guru dan orangtua anak-anak SD yang katanya keracunan sayur basi.
Lalu saya membayangkan ibu saya.
Entah bagaimana lagi caranya bisa bertahan hidup di negara yang makin kacau dan semuanya serba mahal ini. Kondisi keuangan yang morat-marit karena semua orang memikirkan kepentingan pribadi dan ramai-ramai menjarah duit yang bukan haknya menjadi alasan yang muncul sebagai alasan dalam benak saya untuk menghilangkan penat yang muncul susul-menyusul.
Lalu lendir meleleh dari hidung saya.
Lalu saya membayangkan Carmen Electra.
Saat itu saya baru ingat kalau sakit.
Saya pulang ke rumah, cuci kaki, lalu angkat selimut untuk menghangatkan tubuh.
Tidur.
Until next time.
Always shaven. Cold.

August 26th, 2008 at 5:41 pm
SMS-an sambil memeriksa shaven? Mungkin dia menggunakan teknologi pemeriksaan terbaru: diagnosa via SMS. Lalu, kecurigaan berikutnya: mungkin dia juga lagi naya ke Mbah Kamis Legi itu…
*ditakol*
Serius nih sekarang, iya itu pemilik warung. Dilema. Kalau menyediakan masakan dengan bahan makanan prima, tentu saja harganya jadi mahal. Ga bakal ada yang beli, wong konsumennya setingkat dia ekonominya. Sedang kalau kejadian seperti sekarang, ya udah, ga ada yang mau beli daganganannya, dan itu berarti mematikan sumber penghasilan…
Er … “anak laki-lakinya yang hobi balap motor di jalan kampung selalu minta uang untuk beli bensin.” Hihi, kok Ambu jadi kebawa-bawa dalam lamunan mbah shaven ini …
*kabur*
*balik lagi*
*ngebangunin shaven yang lagi tidur berselimut*
*vitamin sama kapsul kuningnya udah diminum?*
*beneran kaburnya*
August 26th, 2008 at 5:49 pm
Whuehe.. wis gede tur duwe domain dewe. kok msh umbelen ??