Mr. Katrok Goes To Capital
Aug 1, 2008 Rumbles
Setiap kali melakukan perjalanan lintas kota, terutama yang jaraknya jauh, saya selalu teringat lagu ‘Home’-nya Michael Buble.
…
…
Oke, mungkin gak ada yang percaya selera musik saya setinggi itu. Saya memang lebih teringat lagu ‘Yogyakarta’-nya Kla Project.
…
…
Weh, masih pada belum percaya? Oke! Oke! Saya ngaku! Setiap melakukan perjalanan jauh saya memang selalu kebayang lagu ‘Sewu Kutho’-nya Didi Kempot! There you have it! My secret!
Kebetulan akhir minggu kemarin saya mendapatkan mandat untuk berangkat ke Jakarta. Ini yang pertama kali sejak kira-kira enam tahun terakhir saya meninggalkan daerah Jawa Tengah, DIY dan sekitarnya. Memang katrok. Memang ndeso. Tapi jujur, saya tidak pernah mau meninggalkan Jogja. The culture grip is too strong dan lagi ndak ada alasan kuat kenapa saya harus pergi dari Jogja.
Minggu kemarin akhirnya saya mau pergi ke Jakarta dengan beberapa pertimbangan, satu karena harus – pekerjaan mengharuskan saya berangkat, kedua karena istri saya belum pernah ke Jakarta seumur hidupnya dan sepertinya ini saat yang paling tepat untuk mengajak dia melihat gedung-gedung bertingkat 30 dan hiruk pikuknya orang menghindar dari terjangan bajaj. Apalagi adik saya juga sudah menyatakan kesediaannya menampung dua orang suami istri katrok yang lost in translation ini di kontrakannya. Berbekal minuman pengganti ion tubuh dan kacang garing, berangkatlah kami ke ibukota dengan OBL.
Secara kebetulan, kursi-kursi di depan tempat duduk kami di bis malam penuh diisi sepuluh orang plus dua anak kecil yang sepertinya sekeluarga berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan, mereka berangkat naik bis dan pulang hari Minggu. How do I know about the details? Because they told us. Memberitahu kami? Tidak… tidak… memberitahu SEISI bis. They are very loud and kept on talking the whole night long. Yes. The WHOLE night long. Sebenarnya tidak masalah, karena kalau saya berangkat ke luar kota dengan 10 orang saudara kami, pasti terjadi keributan yang sama. Jadi paling tidak ada 14 orang katrok yang akan menyerbu Jakarta akhir pekan itu – termasuk saya dan istri, tentunya.
The good side dari perjalanan naik bis adalah kami bisa benar-benar menikmati perjalanan jarak jauh. Kerasa banget jarak Jogja-Jakarta. Bad side-nya adalah… gak ada yang dinikmati, perjalanan malam isinya cuma pemandangan gelap – belum lagi kalo lewat Weleri arah Pemalang, jalannya berkelak-kelok dengan dahsyat seperti mengisyaratkan kalau dulu pembuat jalan lintas ini sangat gemar bermain game Rollercoaster Tycoon. Beruntung kedua suami istri katrok yang diceritakan sebagai hero di blog ini tidak mabok, terutama karena sudah menyiapkan salonpas tempel sebagai anti-windcomein versi 1.0 alias anti masuk angin untuk ditempel di puser dan selalu siap untuk diupdate. Selain itu karena mengaku orang pintar, suami istri katrok itu selalu minum anti-windcomein versi cair. Orang pintar, minum say-no-to-wind. :P
Bis hanya berhenti beberapa kali, untuk mengisi bensin di Temanggung, berhenti ambil snack di pool yang tidak begitu jauh dari situ, berhenti di Gringsing untuk makan malam dan setor pipis lalu berhenti di lokasi antah berantah untuk entah ngapain. Yang jelas supirnya turun agak lama sementara pemandangan masih gelap. Thanks to God, stock snack istri saya mencukupi untuk satu dasawarsa jadi tidak terlalu terganggu.
Bis kami tergolong cukup cepat, jam empat pagi sudah masuk Gatot Subroto dan adik saya menjemput tidak lama setelah kami masuk pool.
Masih gelap, masih dingin, tapi Jakarta sudah menyambut saya. Kali ini lagu dari Slank yang berngiang-ngiang di kepala saya.
Jakarta… pagi ini…
…
…
Hmm, tidak juga. Masih ada sisa lenguhan Didi Kempot di kepala saya.
Ah sudahlah, karena ada kerjaan siang hari itu – saya harus bersiap.
Istirahat.
Until next time.
Always shaven. Journey.

August 1st, 2008 at 4:11 pm
Euh.
Kirain panjang, ternyata cuma segitu?
WE WANT MORE! WE WANT MORE!
(subtitle: Deui atuh euy! Hihi)
“ndak ada alasan kuat kenapa saya harus pergi dari Jogja”
T_T
Walaupun untuk membalas kunjungan ke Bandung? Sama sekali bukan alasan kuat?
*nangis di bahunya Hesti*
Oya, kalau di Sunda, seseorang yang baru pertama kali menginjak suatu tempat baru, mesti ngegel batu. Menggigit batu. Di Jokja ada nggak ya semacam itu?
:P
Oh well. Weleri. Waktu perjalanan jauh Cirebon-Solo-Jokja dulu, Ambu motong jalan ke Selatan via Weleri. Waktu jalan kedua kalinya sih enggak, soalnya ke Jokja dulu-(tadinya mau ke Solo dan ga jadi karena bujukrayu Mas yang itu tuh->tunjuk-tunjuk foto di atas)-Semarang-Cirebon :P
Kapan ya, bisa ke Jokja lagi?