Who Watches The Watchmen?

Do you know who your heroes are?

Watchmen 20 Anniversary

Saya sudah bertahun-tahun menggemari kisah petualangan komik superhero. Superman, Batman, Spider-Man (perhatikan penggunakan tanda “-”, banyak orang sering melupakan tanda tsb dalam penulisan nama si kepala jaring.), X-Men, Green Lantern, Thor, Captain America, sampai versi lokal seperti Gundala, Godam, Kapten Halilintar dan Labah-Labah Merah. Saya yakin anda juga mengenal sebagian nama yang saya sebut di atas, namun kenalkah anda dengan Watchmen? Sebentar lagi film adaptasi komik miniseri karangan Alan Moore dan Dave Gibbons yang terbit sekitar 1986-1987 ini akan menghiasi layar bioskop kita. Lemme introduce them to you, seperti kata pepatah “The man with the golden gun” yang artinya:  “tak kenal maka tak sayang”. Hihihi… gak nyambung ya? :P

Watchmen adalah kisah yang kontroversial. Mulai dari komik sampai filmnya, Watchmen selalu diiringi kontroversi. Tokoh-tokoh yang muncul dalam komik Watchmen diciptakan oleh Alan Moore setelah idenya untuk menggunakan tokoh Charlton Comics yang diakuisisi DC Comics gagal didapatkan. Bekerja dengan tokoh-tokoh yang ia ciptakan sendiri membuat Moore makin bebas menuangkan idenya. Hasilnya? Sebuah komik pembaharu yang mengobrak-abrik tatanan penceritaan komik model kuno. Superhero dalam Watchmen bukanlah tokoh-tokoh yang sempurna, bukan tokoh digdaya otot kawat tulang besi baik hati tidak sombong hormat orang tua dan guru dengan kumis melintir. Mereka adalah tokoh yang ‘cacat’ karena manusiawi dan memiliki segudang kelemahan. Ketika para superhero itu melakukan kesalahan fatal, siapa yang akan mengingatkan mereka? “Who watches the Watchmen?” adalah jargon yang paling terkenal dari serial miniseri ini.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar karena bakal banyak spoiler bertebaran dan itu pasti mengganggu kenikmatan. Yang seru adalah ketika komik yang menjadi dasar penceritaan komik modern ini berkibar, DC Comics dan Alan Moore berpisah. Alan Moore menuduh DC Comics mencuri hak cipta tokoh-tokoh Watchmen karena ia tak kunjung mendapatkan share yang diharapkan, sementara DC Comics beranggapan bahwa sejak awal tokoh-tokoh ini adalah milik DC Comics.  Alan Moore langsung ngamuk dan memutuskan tidak akan pernah bekerja sebagai penulis sewaan lagi. Itu baru masalah komik. Moore sendiri tidak pernah suka dan tidak pernah mau dilibatkan dalam adaptasi layar lebar dari komik-komiknya. Termasuk di League of Extra-Ordinary Gentlemen, From Hell ataupun Watchmen ini. Dia beranggapan bahwa proyek film tak akan pernah bisa menyampaikan idealisme yang ia gambarkan dalam komik.

Filmnya sendiri juga ngalor ngidul gak karuan. Setelah memperoleh hak cipta, produser Lawrence Gordon menggamit Joel Silver dan sutradara Terry Gilliam untuk memproyeksikan Watchmen di layar lebar dengan dukungan 20th Century Fox dan Warner Bros. Gilliam akhirnya mundur karena menganggap kisah ini terlalu kompleks untuk diterjemahkan. Sekitar tahun 2000-an Watchmen diseberangkan ke Universal Studios dan Paramount Pictures. Darren Aronofsky dan Paul Greengrass sempat disebut-sebut menjadi sutradara, namun gagal kembali karena pertarungan masalah dana. Hak cipta Watchmen kembali jatuh ke tangan Warner Bros yang menunjuk Zack Snyder yang baru saja sukses dengan “300″. Untuk distribusi internasional, Warner Bros menunjuk Paramount Pictures.  Kali ini studio Fox yang mencak-mencak, dan akhirnya setelah musyawarah untuk mencapai mufakat, hehehe… Fox akan dihadiahi beberapa persen dari keuntungan Watchmen, itu kalo untung…

Oke. Itu soal behind the scene. Siapa sih Watchmen sendiri?

The Comedian – hard ass no BS anti hero, Doc Manhattan – si telanjang berkulit biru berkekuatan super, Nite Owl – ordinary hero yang mengandalkan gadget seperti layaknya Blue Beetle atau Batman, Ozymandias – the smartest man on the planet, Rorschach – vigilante bertopeng tumpahan tinta dan Silk Spectre – satu-satunya cewek di kelompok Watchmen.

I’ll be watching this.

Until next time,
Always Shaven. Cari watch yang anti air.