Poisonous Veggie

Beberapa minggu yang lalu saya sakit.

Badan nekuk-nekuk, seharian hidung meler, nelen gak enak, kepala senut-senut, perut mulas, Jogja berawan, Semarang hujan, pokoknya komplit – terpaksalah saya minta ijin pada Pak Bos untuk libur sehari. Jam sepuluh siang hari itu saya dianterin istri mengunjungi puskesmas yang ada di belakang rumah mertua. Puskesmas itu makhluk aneh, sakit apapun selalu dikasih vitamin dan kapsul-kapsul kuning yang kurang begitu jelas asal muasalnya. Mulai dari darah tinggi sampai mencret, obatnya yang itu-itu juga. Tapi yah gak apa-apa, itung-itung kontrol tensi dan periksa kondisi dengan harga yang terjangkau. Kalaupun vitaminnya nggak manjur saya bisa minta petunjuk primbon Mbah Roso yang keponakannya lahir Kamis Legi itu.

Sambil menunggu dipanggil mbak mantri setelah mendaftar di administrasi, saya dan istri duduk di kursi yang ada di ruang tunggu. Ruangan itu kecil, jadi mau tidak mau kami ‘harus’ melihat ke arah seorang bapak berpakaian dinas yang mondar mandir di depan kamar obat. Bapak itu datang untuk mengantarkan dua orang gadis kecil berseragam SD yang duduk di kursi tunggu. Istri saya iseng-iseng nanya ke salah satu anak SD yang wajahnya melas dan pucat, mungkin dia ngerasa kalo suaminya juga punya wajah yang melas dan pucat.

“Sakit apa, dek?” tanya istri saya.

“Keracunan, Bu.”

Heh!?

“Keracunan?” istri saya mulai penasaran.

“Iya, perutnya sakit, takutnya kena diare.”

“Cuma berdua ini yang sakit?”

“Nggak, Mbak. Ada 6 anak yang kena. 2 di sini, 2 di puskesmas sana dan 2 lagi dianterin ke puskesmas yang sana lagi.” Kata Bapak yang nganterin dua anak SD itu sambil nunjuk kesana kemari – padahal kita juga belum tentu tahu puskesmas yang dia maksud.

“Kok bisa keracunan, Pak?” tanya istri saya lagi, wah… mulai kumat penyakit Nancy Drew-nya. Pengen tau aja.

“Katanya gara-gara jajan.” Jawab Bapak itu.

“Oh, jajan sembarangan ya. Penjualnya yang sering keliling ya?”

“Malah bukan. Mereka beli nasi sayur di warung deket SD.” Lagi-lagi Bapak itu menjawab. “Itu yang bikin heran, kalau yang jualan yang sering keliling memang mengkhawatirkan, sering pakai bahan makanan yang tidak jelas dan kualitas saosnya diragukan.”

“Oooh, jadi malah warung gitu ya, Pak?”

“Iya, Mbak. Mungkin sayurnya sisa kemarin atau gimana nggak tahu…”

Anak-anak SD itu ikut nambahi. “Iya, tadi memang sayurnya agak aneh rasanya, nggak begitu enak. Nggak maknyus.” Halah.

“Saya juga heran sama yang jual, Mbak. Sudah dipercaya kok malah seenaknya sendiri. Yang beli makanan kan kebanyakan anak-anak yang seharusnya dijaga kualitas kebersihannya, kok maunya malah cuma cari untung saja. Kalau yang jual yang keliling pasti sudah dikeroyok orang tua murid. Kalau yang ini mungkin nanti diajak rembugan dulu.”

Istri saya terus menimpali dengan manggut-manggut sementara saya geleng-geleng antara nggak ngerti sembari mencoba mengeluarkan ingus.

Tak lama kemudian saya dipanggil masuk ruang periksa, jadi saya lupakan percakapan barusan untuk sementara. Ealah lha kok jebul di dalam mbak mantri malah sibuk sms-an. Dudulipret.

Sembari sms-an, mbak mantri lalu memeriksa saya. Jadi sodara-sodara, mohon dicatat: bukan memeriksa sambil sms-an, tapi ketika sms diselingi dengan memeriksa saya! Ya! Dudulipret. Memangnya penyakit bisa didiagnosa dari sms ya, mbak? Mentang-mentang PNS nih, periksa pasien kok seenaknya.

Tak lama kemudian saya keluar dari ruang periksa dan istri saya memintakan obat, bapak dan dua anak SD tadi tentunya sudah pergi. Tapi masalah keracunan tadi masih membuat saya berpikir.

Entah kenapa otak saya langsung membayangkan seorang ibu-ibu tua yang dengan susah payah mencari kayu bakar karena tidak kuat membeli minyak tanah atau gas yang harganya melambung dan berulang memanasi sayur yang tak kunjung laku dijual di warungnya. Dia ingin masak sayur baru namun hal itu tidak bisa dilakukan kalau sayurnya belum habis karena dia belum punya modal cukup, apalagi anak laki-lakinya yang hobi balap motor di jalan kampung selalu minta uang untuk beli bensin. Dengan sangat terpaksa dia menjual sayurnya yang tersisa banyak sejak kemarin dengan harapan rasanya masih enak dan bisa dimakan.

Saya membayangkan ibu-ibu tua itu dimaki-maki oleh guru dan orangtua anak-anak SD yang katanya keracunan sayur basi.

Lalu saya membayangkan ibu saya.

Entah bagaimana lagi caranya bisa bertahan hidup di negara yang makin kacau dan semuanya serba mahal ini. Kondisi keuangan yang morat-marit karena semua orang memikirkan kepentingan pribadi dan ramai-ramai menjarah duit yang bukan haknya menjadi alasan yang muncul sebagai alasan dalam benak saya untuk menghilangkan penat yang muncul susul-menyusul.

Lalu lendir meleleh dari hidung saya.

Lalu saya membayangkan Carmen Electra.

Saat itu saya baru ingat kalau sakit.

Saya pulang ke rumah, cuci kaki, lalu angkat selimut untuk menghangatkan tubuh.

Tidur.

Until next time.
Always shaven. Cold.

Mr. Katrok Goes To Capital

Setiap kali melakukan perjalanan lintas kota, terutama yang jaraknya jauh, saya selalu teringat lagu ‘Home’-nya Michael Buble.

Oke, mungkin gak ada yang percaya selera musik saya setinggi itu. Saya memang lebih teringat lagu ‘Yogyakarta’-nya Kla Project.

Weh, masih pada belum percaya? Oke! Oke! Saya ngaku! Setiap melakukan perjalanan jauh saya memang selalu kebayang lagu ‘Sewu Kutho’-nya Didi Kempot! There you have it! My secret!

Kebetulan akhir minggu kemarin saya mendapatkan mandat untuk berangkat ke Jakarta. Ini yang pertama kali sejak kira-kira enam tahun terakhir saya meninggalkan daerah Jawa Tengah, DIY dan sekitarnya. Memang katrok. Memang ndeso. Tapi jujur, saya tidak pernah mau meninggalkan Jogja. The culture grip is too strong dan lagi ndak ada alasan kuat kenapa saya harus pergi dari Jogja.

Minggu kemarin akhirnya saya mau pergi ke Jakarta dengan beberapa pertimbangan, satu karena harus – pekerjaan mengharuskan saya berangkat, kedua karena istri saya belum pernah ke Jakarta seumur hidupnya dan sepertinya ini saat yang paling tepat untuk mengajak dia melihat gedung-gedung bertingkat 30 dan hiruk pikuknya orang menghindar dari terjangan bajaj. Apalagi adik saya juga sudah menyatakan kesediaannya menampung dua orang suami istri katrok yang lost in translation ini di kontrakannya. Berbekal minuman pengganti ion tubuh dan kacang garing, berangkatlah kami ke ibukota dengan OBL.

Secara kebetulan, kursi-kursi di depan tempat duduk kami di bis malam penuh diisi sepuluh orang plus dua anak kecil yang sepertinya sekeluarga berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan, mereka berangkat naik bis dan pulang hari Minggu. How do I know about the details? Because they told us. Memberitahu kami? Tidak… tidak… memberitahu SEISI bis. They are very loud and kept on talking the whole night long. Yes. The WHOLE night long. Sebenarnya tidak masalah, karena kalau saya berangkat ke luar kota dengan 10 orang saudara kami, pasti terjadi keributan yang sama. Jadi paling tidak ada 14 orang katrok yang akan menyerbu Jakarta akhir pekan itu – termasuk saya dan istri, tentunya.

The good side dari perjalanan naik bis adalah kami bisa benar-benar menikmati perjalanan jarak jauh. Kerasa banget jarak Jogja-Jakarta. Bad side-nya adalah… gak ada yang dinikmati, perjalanan malam isinya cuma pemandangan gelap – belum lagi kalo lewat Weleri arah Pemalang, jalannya berkelak-kelok dengan dahsyat seperti mengisyaratkan kalau dulu pembuat jalan lintas ini sangat gemar bermain game Rollercoaster Tycoon. Beruntung kedua suami istri katrok yang diceritakan sebagai hero di blog ini tidak mabok, terutama karena sudah menyiapkan salonpas tempel sebagai anti-windcomein versi 1.0 alias anti masuk angin untuk ditempel di puser dan selalu siap untuk diupdate. Selain itu karena mengaku orang pintar, suami istri katrok itu selalu minum anti-windcomein versi cair. Orang pintar, minum say-no-to-wind. :P

Bis hanya berhenti beberapa kali, untuk mengisi bensin di Temanggung, berhenti ambil snack di pool yang tidak begitu jauh dari situ, berhenti di Gringsing untuk makan malam dan setor pipis lalu berhenti di lokasi antah berantah untuk entah ngapain. Yang jelas supirnya turun agak lama sementara pemandangan masih gelap. Thanks to God, stock snack istri saya mencukupi untuk satu dasawarsa jadi tidak terlalu terganggu.

Bis kami tergolong cukup cepat, jam empat pagi sudah masuk Gatot Subroto dan adik saya menjemput tidak lama setelah kami masuk pool.

Masih gelap, masih dingin, tapi Jakarta sudah menyambut saya. Kali ini lagu dari Slank yang berngiang-ngiang di kepala saya.

Jakarta… pagi ini…

Hmm, tidak juga. Masih ada sisa lenguhan Didi Kempot di kepala saya.

Ah sudahlah, karena ada kerjaan siang hari itu – saya harus bersiap.

Istirahat.

Until next time.
Always shaven. Journey.